rsud-kotabekasi.org

Loading

di infus di rumah sakit

di infus di rumah sakit

Memahami Prosedur Infus di Rumah Sakit: Jenis, Tujuan, dan Risiko

Infus intravena (IV) adalah prosedur medis umum di rumah sakit yang melibatkan pemberian cairan langsung ke pembuluh darah pasien melalui jarum yang dimasukkan ke dalam vena. Proses ini sering digunakan untuk memberikan obat-obatan, cairan, nutrisi, atau transfusi darah dengan cepat dan efisien. Memahami prosedur infus, jenis-jenis cairan yang digunakan, tujuan pemberian, dan potensi risiko yang mungkin timbul sangat penting bagi pasien dan keluarga.

Jenis-Jenis Cairan Infus dan Kegunaannya

Berbagai jenis cairan infus tersedia, masing-masing dirancang untuk memenuhi kebutuhan spesifik pasien. Pemilihan cairan infus tergantung pada kondisi medis pasien, tingkat dehidrasi, elektrolit yang tidak seimbang, dan obat-obatan yang perlu diberikan. Berikut adalah beberapa jenis cairan infus yang umum digunakan:

  • Nlinar Sembilan (NCl 0,9%): Ini adalah larutan isotonik, artinya konsentrasi garamnya mirip dengan cairan tubuh. Larutan salin normal digunakan untuk mengembalikan cairan tubuh yang hilang akibat dehidrasi, pendarahan, atau muntah. Ini juga digunakan untuk membersihkan luka dan sebagai pembawa untuk obat-obatan IV.

  • Larutan Ringer Laktat (RL): Larutan ini mengandung natrium klorida, kalium klorida, kalsium klorida, dan natrium laktat. RL adalah larutan isotonik yang mirip dengan komposisi elektrolit dalam plasma darah manusia. Ini sering digunakan untuk menggantikan cairan dan elektrolit yang hilang akibat operasi, luka bakar, atau trauma. Natrium laktat diubah menjadi bikarbonat oleh hati, membantu menetralkan keasaman darah.

  • Dekstrosa 5% dalam Air (D5W): D5W adalah larutan hipotonik yang mengandung glukosa. Ini digunakan untuk memberikan cairan dan kalori kepada pasien yang tidak dapat makan atau minum. Glukosa juga membantu mencegah hipoglikemia (gula darah rendah). Namun, karena D5W hipotonik, ia dapat menyebabkan pergeseran cairan dari pembuluh darah ke sel-sel tubuh, sehingga penggunaannya harus hati-hati.

  • Dextrose 5% dalam Salin Normal (D5NS): Larutan ini menggabungkan manfaat D5W dan larutan salin normal. Ini memberikan cairan, kalori, dan elektrolit. D5NS sering digunakan untuk mengobati dehidrasi, kehilangan elektrolit, dan hipoglikemia.

  • Dextrose 5% dalam Ringer Laktat (D5RL): Larutan ini menggabungkan manfaat D5W dan Ringer Laktat. Ini memberikan cairan, kalori, dan elektrolit, serta membantu menetralkan keasaman darah. D5RL sering digunakan untuk mengobati dehidrasi, kehilangan elektrolit, hipoglikemia, dan asidosis metabolik.

  • Larutan Hipertonik (misalnya, Salin Hipertonik 3% atau 5%): Larutan ini memiliki konsentrasi garam yang lebih tinggi daripada cairan tubuh. Larutan hipertonik digunakan untuk mengobati hiponatremia (kadar natrium rendah dalam darah) dan meningkatkan volume cairan di dalam pembuluh darah. Penggunaan larutan hipertonik harus hati-hati karena dapat menyebabkan pergeseran cairan yang cepat dan berpotensi berbahaya.

  • Larutan Koloid (misalnya, Albumin, Dextran): Larutan koloid mengandung molekul besar yang tidak mudah melewati dinding pembuluh darah. Ini membantu mempertahankan cairan di dalam pembuluh darah dan meningkatkan volume darah. Larutan koloid digunakan untuk mengobati hipovolemia (volume darah rendah) dan syok.

Tujuan Pemberian Infus di Rumah Sakit

Pemberian infus di rumah sakit memiliki berbagai tujuan penting, termasuk:

  • Rehidrasi: Mengembalikan cairan tubuh yang hilang akibat dehidrasi yang disebabkan oleh muntah, diare, demam, luka bakar, atau kondisi medis lainnya.

  • Pemberian Obat: Memberikan obat-obatan secara langsung ke pembuluh darah, memastikan penyerapan yang cepat dan efektif. Ini sangat penting untuk obat-obatan yang tidak dapat diberikan secara oral atau yang membutuhkan konsentrasi yang tepat dalam darah.

  • Koreksi Elektrolit: Mengoreksi ketidakseimbangan elektrolit seperti natrium, kalium, kalsium, dan magnesium dalam darah. Ketidakseimbangan elektrolit dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, termasuk aritmia jantung, kelemahan otot, dan kebingungan.

  • Pemberian Nutrisi: Memberikan nutrisi (seperti asam amino, glukosa, dan lemak) kepada pasien yang tidak dapat makan atau minum secara normal. Ini dikenal sebagai nutrisi parenteral.

  • Transfusi Darah: Memberikan darah atau komponen darah kepada pasien yang kehilangan darah akibat pendarahan, operasi, atau kondisi medis lainnya.

  • Mempertahankan Akses Vena: Mempertahankan akses vena yang terbuka untuk pemberian obat-obatan atau cairan darurat di masa mendatang.

Prosedur Pemasangan Infus

Prosedur pemasangan infus biasanya dilakukan oleh perawat atau dokter yang terlatih. Langkah-langkahnya meliputi:

  1. Persiapan: Perawat menjelaskan prosedur kepada pasien dan memastikan bahwa pasien memahami tujuan dan potensi risiko. Mereka kemudian mengumpulkan peralatan yang diperlukan, termasuk kantong infus, selang infus, jarum infus (kateter IV), antiseptik, plester, dan sarung tangan.

  2. Pemilihan Lokasi: Perawat memilih vena yang sesuai untuk pemasangan infus. Vena di lengan atau tangan biasanya dipilih, tetapi vena di kaki atau kaki dapat digunakan jika diperlukan.

  3. Persiapan Kulit: Area kulit di sekitar vena dibersihkan dengan antiseptik untuk mengurangi risiko infeksi.

  4. Pemasangan Kateter IV: Perawat memasukkan kateter IV ke dalam vena. Setelah kateter masuk, jarum ditarik keluar, dan kateter tetap berada di dalam vena.

  5. Pemasangan Selang Infus: Selang infus dihubungkan ke kateter IV, dan kantong infus digantung pada tiang infus.

  6. Pengaturan Laju Aliran: Laju aliran cairan infus diatur sesuai dengan instruksi dokter. Ini dapat dilakukan secara manual atau menggunakan pompa infus.

  7. Fiksasi: Kateter IV difiksasi dengan plester untuk mencegahnya keluar dari vena.

Risiko dan Komplikasi Infus

Meskipun infus umumnya aman, ada beberapa risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi, termasuk:

  • Infeksi: Infeksi dapat terjadi di tempat pemasangan infus jika prosedur tidak dilakukan dengan steril.

  • Inflamasi Vena (Flebitis): Peradangan pada vena yang disebabkan oleh iritasi dari kateter IV atau cairan infus.

  • Infiltrasi: Kebocoran cairan infus ke jaringan di sekitar vena.

  • Emboli Udara: Masuknya udara ke dalam pembuluh darah, yang dapat menyebabkan penyumbatan dan masalah pernapasan.

  • Reaksi Alergi: Reaksi alergi terhadap obat-obatan atau cairan infus.

  • Kelebihan Cairan (Overload Cairan): Pemberian cairan infus terlalu cepat atau terlalu banyak dapat menyebabkan kelebihan cairan dalam tubuh, yang dapat membebani jantung dan paru-paru.

  • Ketidakseimbangan Elektrolit: Pemberian cairan infus yang tidak tepat dapat menyebabkan ketidakseimbangan elektrolit.

Peran Pasien dan Keluarga

Pasien dan keluarga memiliki peran penting dalam memastikan keamanan dan efektivitas infus. Ini termasuk:

  • Memberikan Informasi: Memberikan informasi lengkap tentang riwayat kesehatan, alergi, dan obat-obatan yang dikonsumsi kepada perawat atau dokter.

  • Melaporkan Gejala: Melaporkan setiap gejala yang tidak biasa, seperti nyeri, kemerahan, bengkak, atau gatal di tempat pemasangan infus, kepada perawat atau dokter.

  • Mematuhi Instruksi: Mematuhi instruksi perawat atau dokter mengenai perawatan infus.

  • Menjaga Kebersihan: Menjaga kebersihan tempat infus.

  • Bertanya: Jangan ragu untuk bertanya kepada perawat atau dokter jika ada pertanyaan atau kekhawatiran tentang infus.

Dengan memahami prosedur infus, jenis-jenis cairan yang digunakan, tujuan pemberian, potensi risiko, dan peran pasien dan keluarga, kita dapat berkontribusi pada perawatan yang lebih aman dan efektif.